SIARAN PERS
301/UN54.15/HM.02.03/2026

Langsa, 5 Juli 2026 – Di balik sejarah panjang konflik Aceh, tersimpan kisah ketangguhan perempuan yang mampu bangkit dari pengalaman traumatis dan membangun kembali kehidupan mereka. Kemampuan tersebut tidak hanya lahir dari kekuatan pribadi, tetapi juga diperkuat oleh kearifan lokal dan nilai-nilai keagamaan yang hidup dalam masyarakat Aceh.
Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Samudra, Reni Nuryanti, S.Pd., M.A., menjelaskan bahwa perempuan penyintas konflik Aceh menunjukkan kemampuan bertahan hidup (survival ability) yang dibangun melalui tiga aspek utama, yaitu resiliensi, psychological well-being, dan mekanisme coping. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi yang membantu seseorang menghadapi tekanan, mengelola trauma, serta menjalani kehidupan secara lebih positif setelah mengalami peristiwa yang sulit.
“Resiliensi memungkinkan seseorang bangkit dari kesulitan, psychological well-being membantu individu menerima diri dan memiliki tujuan hidup, sedangkan mekanisme coping menjadi strategi untuk mengelola tekanan dan emosi. Ketiga unsur ini saling melengkapi dalam membentuk kemampuan bertahan hidup,” jelas Reni.
Menurutnya, kekuatan psikologis perempuan Aceh tidak dapat dilepaskan dari budaya dan ajaran Islam yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keduanya menjadi sumber makna, harapan, sekaligus penguat mental ketika masyarakat menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.
Salah satu bentuk kearifan lokal tersebut adalah lagu tradisional Do Da Idi. Lagu pengantar tidur ini tidak sekadar menjadi tradisi lisan, tetapi juga memuat doa, shalawat, harapan akan keselamatan, serta pesan ketenangan batin. Di tengah situasi konflik, para ibu tetap melantunkannya sebagai cara memberikan rasa aman kepada anak-anak sekaligus memperkuat diri mereka sendiri.
“Ketika menimang anak di tengah situasi penuh ketakutan, mereka menyanyikan lagu Do Da Idi. Di dalamnya terdapat shalawat, doa keselamatan, ketenangan, bahkan nilai keberanian. Lagu itu menjadi salah satu cara perempuan Aceh mengurangi trauma,” ujar Reni.
Selain Do Da Idi, Syair Prang Sabi juga menjadi bagian dari warisan budaya Aceh yang mengandung nilai keberanian, kesabaran, keteguhan hati, pengorbanan, dan keyakinan kepada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut tidak hanya membentuk identitas budaya masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi kekuatan moral yang membantu individu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Temuan ini menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki peran sebagai sumber daya psikososial yang mendukung proses pemulihan pascakonflik. Tradisi, syair, dan nilai-nilai religius berfungsi sebagai media untuk mengelola trauma, menumbuhkan harapan, serta menjaga kesejahteraan psikologis masyarakat.
Lebih jauh, Reni menilai bahwa kearifan lokal Aceh memiliki relevansi yang melampaui konteks konflik. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi generasi muda dalam membangun karakter yang tangguh, memperkuat resiliensi, serta menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa kini.
“Kearifan lokal tidak hanya perlu dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga dipahami sebagai sumber pengetahuan yang mengajarkan bagaimana seseorang dapat bangkit, bertahan, dan tumbuh setelah menghadapi masa-masa sulit,” tutup Reni.
Temuan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendukung ketahanan psikologis masyarakat. Bagi perempuan penyintas konflik Aceh, budaya dan nilai-nilai keagamaan menjadi sumber kekuatan untuk mengelola trauma, menumbuhkan harapan, serta membangun kembali kehidupan setelah melewati masa-masa sulit.
Kontak Media:
Humas Universitas Samudra
Mawaddah Ulya
Telepon/WA: 0811-6888-797
Email: humas@unsam.ac.id
Website: https://unsam.ac.id/
The post Do Da Idi dan Syair Prang Sabi, Warisan Budaya yang Menguatkan Perempuan Aceh appeared first on Universitas Samudra.
