SIARAN PERS
396/UN54.15/HM.02.03/2026

Langsa, 31 Agustus 2026 – Informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana yang dipicu cuaca ekstrem. Berbeda dengan bencana geologi yang umumnya sulit diprediksi secara tepat waktu kejadiannya, bencana hidrometeorologi relatif lebih dapat diantisipasi melalui pemantauan dan prakiraan kondisi cuaca.
Namun, peringatan cuaca ekstrem tidak cukup hanya diterima oleh masyarakat tetapi juga juga perlu disertai dengan pemahaman masyarakat mengenai potensi dampak dan tindakan yang harus dilakukan, terutama terkait sistem peringatan dini. Sistem peringatan dini dinilai akan lebih efektif apabila informasi yang diterima dapat diterjemahkan menjadi keputusan cepat untuk mengurangi risiko bencana.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 4.727 kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2025,dengan 99,26 persen merupakan bencana hidrometeorologi. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan masyarakat memahami informasi peringatan dini, khususnya di wilayah yang memiliki risiko banjir dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Menurut Nazriatun Nisa, S.Si., M.Si., Dosen Pendidikan Geografi, Universitas Samudra (Unsam), peringatan dini perlu dipahami tidak hanya sebagai informasi mengenai potensi intensitas hujan, tetapi juga sebagai dasar untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan dalam menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem.
“Peringatan dini tidak seharusnya berhenti pada informasi bahwa hujan lebat berpotensi terjadi. Informasi tersebut perlu dipahami lebih lanjut untuk mengetahui wilayah yang berpotensi terdampak, kelompok masyarakat yang rentan, serta tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi dampaknya,” ujarnya.
Menurut Nazriatun, dampak hujan ekstrem dapat berbeda antar daerah karena dipengaruhi oleh kondisi topografi, tutupan lahan, kapasitas sungai, dan tingkat keterpaparan masyarakat. Karena itu, informasi cuaca perlu dipahami dengan mempertimbangkan kondisi dan karakteristik wilayah yang berpotensi terdampak.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyediakan informasi cuaca, termasuk nowcasting untuk memberikan informasi kondisi cuaca terkini dan potensi cuaca ekstrem dalam jangka pendek. Selain itu, BMKG menerapkan pendekatan Impact-Based Forecasting (IBF) yang menghubungkan informasi cuaca dengan potensi dampak dan tindakan yang perlu dilakukan.
Selain memantau informasi dari kanal resmi, masyarakat dapat mengenali potensi bahaya di wilayah tempat tinggalnya melalui InaRISK Personal, sebuah platform informasi risiko bencana yang dikembangkan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).
Dosen Pendidikan Geografi Unsam, Ikhwan Amri, S.Si., M.Sc., mengatakan bahwa InaRISK dapat menjadi salah satu sumber informasi awal bagi masyarakat untuk mengenali potensi risiko bencana di wilayahnya.
“Masyarakat perlu mengetahui ancaman di sekitarnya sebelum menentukan cara langkah kesiapsiagaan. InaRISK dapat menjadi salah satu sumber informasi, namun perlu informasi tersebut perlu dipadukan dengan pengetahuan lokal dan arahan pemerintah agar dapat menghasilkan tindakan kesiapsiagaan yang tepat,” katanya.
Menurut Ikhwan, pengenalan risiko dapat membantu masyarakat menentukan jalur evakuasi, titik kumpul, menyiapkan kebutuhan darurat, serta menyusun rencana komunikasi keluarga.
Lebih lanjut, Nazriatun menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran dalam menjembatani data, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat agar hasil riset dapat diimplementasikan dalam upaya pengurangan risiko bencana.
“Data dan hasil riset tidak seharusnya berhenti sebagai produk akademik. Hasilpenelitian tersebut perlu dikomunikasikan dalam bentuk yang mudah dipahami sehingga dapat membantu masyarakat dan pemerintah mengambil keputusan yang tepat,” ujarnya.
Unsam mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah, lembaga kebencanaan, perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. Efektifitas sistem peringatan dini tidak hanya ditentukan oleh kecepatan informasi disampaikan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk menerima, memahami, dan menindaklanjuti informasi secara tepat.
Kesiapsiagaan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti mengenali ancaman di sekitar wilayah tempat tinggal, mengikuti informasi dari sumber resmi, mengetahui jalur evakuasi, serta menyusun rencana darurat bersama keluarga.
Kenali risikonya, pahami, tanda-tandanya, dan bertindak sebelum terlambat. (*MU)
![]()
The post Bukan Sekadar Peringatan, Ini Kunci Respons Cepat Hadapi Bencana Cuaca Ekstrem appeared first on Universitas Samudra.
